Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan
annawawi.berjan
28 Des 2022, 08:21 WIB Last Updated 2022-12-29T00:31:58Z

 

Hujan dan Jejak Mursyid

Dari Surau Hingga Hagia Sophia

oleh : Hendri Utomo

 


Ahad (25/12/2022)

 

H

ujan gerimis dan jamaah yang menipis berbanding lurus dengan parkir kendaraan yang longgar. Toh begitu, pengajian rutin jamaah Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah di Masjid Induk Shiddiq Zarkasyi, Kompleks Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo tetap jalan.

 

Hujan boleh saja membuat kaki-kaki berat melangkah, namun KH. Achmad Chalwani, Mursyid Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah yang juga Generasi ke-4 Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi tetap tidak surut semangat.

 

Mengenakan kemeja dan kopiah putih, nampak elegan berpadu dengan sorban kombinasi warna hijau lumut, hitam dan biru tua tersemat di pundak kirinya. Beliau mungkin juga merasakan dinginnya pagi itu, namun tetap saja tekun membimbing para jamaah yang didekap hujan.

 

Jarum jam sudah mulai menunjuk angka 09.30 WIB. Pondok Pesantren yang memiliki ribuan santri dari berbagai pelosok negeri ini pun terintip sedikit berbeda dari biasanya, khususnya di ruang sayap barat dapur beratap kanopi, yang terletak di sisi selatan Masjid yang cukup tersembunyi.

 

Tempat ini cukup nyaman untuk menghisap berbatang-batang rokok berteman secangkir kopi. Namun sekali lagi, hujan kali ini benar-benar telah membuktikan dugaan awal. Sepi!

 

Sejauh mata memandang, nyaris hanya ada satu jamaah laki-laki yang duduk sendiri di pojok sekat ruangan itu, tubuhnya bahkan nyaris tidak kelihatan, karena tertutup meja serupa rak yang juga ada dua pasang sepatu futsal milik santri.

 

Biasanya, tempat ini ramai, kerap disinggahi jamaah Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah yang sudah berkeluarga. Biasanya mereka membawa serta istri dan anak-anaknya. Tempat ini juga kadang riuh para alumni generasi tua yang rindu bercengkrama.

 

Tepat pukul 09.45, KH. Achmad Chalwani pun mulai duduk di mimbar. Suaranya yang lembut namun dalam mulai terdengar mengawali, "Ya fattahu yaa 'allim..." kemudian diikuti semua mata dan telinga jamaah Tarekat tertuju kepada putra bungsu KH. Nawawi ini.

 

Sementara di dekat tangga, beberapa jengkal dari menara Masjid, seorang santri terlihat serius membagi relai video pengajian rutin itu untuk disiarkan langsung melaluki kanal Youtube. "Mriki mawon mas (sini saja mas)," ucap melalui pesan singkat.

 

Sementara itu, hujan masih terlihat sibuk menari, seperti ribuan jarum alit yang jatuh dari langit, merobek ruang udara dan jatuh menghujam ke bumi, menguarkan aroma tanah dari ruam-ruam halaman yang basah. Sejurus kemudian, KH. Achmad Chalwani memulai mengawali pengajian.

 

Pengajian rutin itu digelar di masjid induk yang berada tepat di jantung Ponpes An-Nawawi Berjan. Masjid yang megah, memiliki menara menjulang tinggi ke angkasa, ditopang pilar-pilar kokoh berornamen khas. Jika dilihat, sekilas mirip masjid-masjid di Timur Tengah. Sekilas mirip Masjid Hagia Sophia di Istambul Turki versi kecil.

 

Mencoba menyentuh lantainya, semakin jauh mengenang riwayat Hagia Sophia berikut sejarah yang melingkupinya. Hagia Sophia adalah warisan sejarah Bizantium, tetenger (penanda) jatuhnya Konstantinopel di tangan Utsmani pada 29 Mei 1453.

 

Begitu banyak catatan sejarah mengenai masjid simbol peradaban Islam di eropa ini. Banyak sekali literasinya, banyak catatan baik itu dari Yunani, Italia, Slavia, Turki, dan Rusia. Tentu saja dengan versi masing-masing yang berbeda-beda, cukup sulit jika harus disatukan.

 

Ku sulut satu batang rokok, ingatan pun kembali terpanggil untuk menengang sebuah nama Steven Runciman dengan bukunya yang berjudul A History of the Crusades. Ia adalah sejarawan kontemporer kebangsaan Inggris yang terbilang cukup lengkap mengupas Hagia Sophia.

 

Hagia Sophia ini dulunya adalah gereja yang kemudian berubah menjadi masjid kekaisaran pasca penaklukan Konstantinopel. Peralihan fungsi bangunan peribadatan ini juga menjadi bukti, bahwa Muslim dalam melakukan penaklukkan tetap memegang kearifan, keberadaan Gereja Kristen Ortodoks tidak dihabiskan. Sebagaimana sistem millet Utsmani, memang biasa membiarkan agama non-Islam untuk mengatur urusan masing-masing.

 

Adalah Gennadius Scholarius yang kemudian dikenal sebagai Patriark Konstantinopel pertama pada masa Utsmani. Ia menetapkan kedudukannya di Gereja Rasul Suci, meskipun kemudian berpindah ke Gereja Pammakaristos.

 

Perjalanan waktu, Mehmed II mulai melakukan sejumlah perbaikan dan pengubahan bangunan Hagia Sophia yang dulunya gereja menjadi masjid. Sejarah mencatat, Mehmed II melaksanakan salat Jumat pertama kali di masjid Hagia Sophia pada 1 Juni 1453. Sejak saat itu, Hagia Sophia murni berubah menjadi masjid kekaisaran pertama di Istanbul.

 

Kompleks Hagia Sophia kemudian dikenal sebagai Istana Topkapı. Tahun 1478 Kompleks Hagia Sophia sudah dilengkapi 2.360 toko, 1.360 rumah, 4 karavanserai, 30 toko boza serta 23 toko domba yang dikelola Yayasan untuk menghidupkan Hagia Sophia.

 

Kemudian dikuatkan dengan piagam kekaisaran di tahun 1520 (926 H) dan 1547 (954 H), sejumlah toko dan bagian dari Grand Bazaar berikut pasar-pasar lain yang ditambahkan masuk dalam kesatuan kompleks Hagia Sophia. Termasuk air mancur untuk wudhu. Sebuah menara kecil juga dibangun tepat di sudut barat daya bangunan di atas menara tangga sebelum 1481 M.

 

Pada masa kepemimpinan Sultan Bayezid II (1481–1512), ada penambahan menara lain di sudut timur laut. Kendati salah satu dari menara itu kemudian runtuh akibat gempa bumi pada tahun 1509. Pertengahan Abad XVI keduanya kemudian diganti dengan dua menara yang dibangun di sudut timur dan barat bangunan utama.

 

Selim II yang jeli melihat tanda-tanda kerapuhan di beberapa bagian Hagia Sophia kembali memperkuat struktur bagian luar. Proyek ini dikepalai seorang arsitek asli Utsmani bernama Mimar Sinan. Sosok inilah yang kemudian dikenal sebagai salah satu insinyur gempa pertama di dunia.

 

Sinan dengan telaten menjaga struktur bangunan yang sangat bersejarah di Bizantium ini. Bahkan kemudian menambahkan dua menara besar di barat yang awalnya ruang khusus sultan, dan satu lagi di bangunan makam Turki untuk makam Selim II di tenggara bangunan pada 1576-7 M. Lambang bulan sabit emas tak lupa dipasang di atas kubah. Terakhir, kompleks makam di Hagia Sophia ini menjadi makam bagi 43 pangeran Utsmani hingga saat ini. 

 

Seolah terjaga dari mimpi, KH. Achmad Chalwani sudah mulai mengajarkan para jamaah membaca dan memaknai hujan. Tepat pada tatapan pertama dari balik celah jendela masjid, bayangan generasi terakhir Utsmani seperti meminta, tutup dulu cerita Hagia Sophia, luruskan niatmu datang mengikuti pengajian.

 

Dan betul, KH. Achmad Chalwani sudah mulai menceritakan pengalaman yang tak kalah menarik. Sebuah perjalanan ziarah ke makam Syeh Sayid Muhammad Al Busiri di Iskandaria (Afrika). Ya, orang barat menyebutnya Alexadria.

 

Beliau mulai mengenalkan tokoh pengarang Muallayasol, Ya Robbibil, dan Huwal Habib itu. Diakhir cerita, sebuah doa pun diijazahkan kepada para jemaah yang khusyuk menyimak ucapan demi ucapan sang Musryid yang terdengar pelan membimbing.

Monggo diwaos sareng, "Allahumma Inna nas aluka khoiro hadihirriyaahi, wa khoiroma arsalta biha wana'udzubika min syarri hadihirriyaahi wa syarrima arsalta biha...Aamiin ya Robbal 'Alamiin..."

 

"Duh Allah, sak temene kito, iku nyuwun kito ing Panjenengan, ing sae-saene pinten-pinten angin, lan ing sae-saene perkoro, kang kirim Panjenengan Allah lumantar angin lan nyuwun kerekso ingsun dateng Panjenengan, saking ala-alane pikiran, piro-piro angin lan saking ala-alane perkoro kang kirim Panjenengan Allah lumantar angin, Aamiin"

 

Doa ini adalah doa meminta cuaca yang bagus, angin yang dikirimkan untuk membawa kebaikan, menghentikan syahwat bencana banjir dan angin topan, seperti yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia akhir-akhir ini. Beliau juga menitipkan pesan, sampaikan dan ajarkan doa tersebut kepada anak-anak di rumah. Perbanyak membaca Huwal Habib, sebab sejatinya hujan itu rahmat untuk menubuhkan tanaman.

 

"Kerekso ingsun dateng panjenengan saking ala-alane pikiran kulo kulo angin, ala-alane perkoro kang kirim panjenengan Allah lumantar angin. Musim hujan seperti ini monggo diwaos (silahkan dibaca). Mintalah hujan rohmat, jangan lupa juga baca Alhuma Sukya Rohmatin Wala Sukya 'Adzabin. Pujian Illahi ya Karim hentikan dulu, meskipun alunan lagunya enak, namun itu doa meminta hujan deras. Sementara ganti dengan Mu'allayasol (3 x) , Ya Robbibil Mustofa (3 x), dan Huwal Habib (11 x), InsyaAllah hujan berhenti,"

 

Materi pengajian yang sangat kontekstual, jamaah pun akhirnya larut dalam khusyuk mengikuti Mujahadah yang dipimpin langsung sang Mursyid.

 

Pengajian selesai, KH. Achmad Chalwani pun turun dari mimbar dan keluar dari masjid megah itu. Satu fase ingatan yang mungkin tidak akan pernah kembali, mata ini seolah menyimak dengan lekat, langkah kaki beliau menapak persis di bekas jejak kaki KH. Zarkasyi di tahun 1830-1914 silam.

 

Awal mula Pondok Pesantren yang berada di Pedukuhan Berjan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ini berdiri, yang dulu hanya berwujud surau sederhana. Sedikit melepas tatapan mata dari langkah-langkah kali beliau, sekuat tenaga tubuh ini berbalik 180 derajat, mata kembali menengok kebelakang, dan tepat di antara pilar Masjid induk Pondok Pesantren Berjan itu, bayang-bayang sosok Al Marhum Al Maghfurlah KH. Zarkasyi, sang pengasuh pondok periode pertama pada medio 1830 M -1914 M seperti muncul dan tersenyum.

 

Beliau tidak lain adalah putra Ky. Asnawi Tempel yang lahir di Desa Tempel, Tanggung, Sidomulyo, Purworejo, Jawa Tengah. KH. Zarkasyi mendapat tempaan ilmu pendidikan agama yang kuat sejak kecil, langsung dari orang tuanya. Kemudian mondok di Bangil Jawa Timur, dan penyecap ilmu langsung dari KH. Abdul Karim Banten (Paman Syaikh Nawawi Banten) di Tanah Suci Makkah Al-Mukarromah.

 

Menebalkan ingatan, Masjid Shiddiq Zarkasyi ini benar-benar semegah Masjid Hagia Sophia di Istambul. Jejak KH. Zarkasyi sesaat setelah kepindahannya dari Dunglo (Ngelis/Pabrik  Listrik) Kalurahan Baledono, Kabupaten Purworejo. Secara fungsi, mungkin bahkan lebih dulu, surau sederhana itu dulu digunakan KH Zarkasyi sebagai pusat syiar Islam.

 

Kendati hanya terbuat dari bambu, namun KH. Zarkasyi berhasil menanamkan pokok-pokok keimanan (Al Tauhid) dan bentuk-bentuk peribadatan praktis lainnya kepada masyarakat Berjan dan sekitarnya. Referensi utamanya yakni kitab Lathaif al-Thaharah karya KH Sholeh Darat Semarang. Hingga kemudian surau sederhana itu kini sudah berkembang menjadi Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan yang masyhur.

 

Nama Berjan sendiri mengandung makna do’a, sumbering kabejan (sumber kemuliaan). KH. Zarkhasyi juga pernah tinggal di Banjaran dan Buntit, sebuah pedukuhan di utara Berjan. Di tempat itulah beliau membangun rumah bambu beratap ilalang juga masjid untuk mengembangkan Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah yang diperolehnya dari KH Abdul Karim Banten di Suq al-Lail Makkah al-Mukarromah.

 

KH. Zarkasyi wafat, perjalanan Pondok Pesantren kemudian dilanjutkan sang putra KH. Shiddiq mulai 1914 M hingga 1947 M. Di masa kepemimpinan KH. Shiddiq, Pondok Pesantren An-Nawawi mulai sedikit mengalami prubahan, sebagian santri yang biasa pulang usai belajar atau mengaji, sebagian sudah mulai menetap, tinggal di asrama sederhana yang disediakan. Tumbuh menjadi Pondok Pesantren yang dilengkapi asrama, tepat saat periode ketiga kepemimpinan Pondok Pesantren An Nawawi Berjan di pimpin oleh KH. Nawawi, beliau adalah putra KH. Shiddiq.

 

KH. Nawawi sejak kecil juga dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren. Beliau juga pernah menimba ilmu di sejumlah pondok pesantren diantaranya Pondok Kauman Grabag (Magelang - K. Rohmat), Pondok Pesantren Lasem (Rembang), Pondok Pesantren Lirboyo (Kediri), Pondok Pesantren Jampes (Kediri), Pondok Pesantren Tebuireng (Jombang), Pondok Pesantren Krapyak (Yogyakarta), Pondok Pesantren Tremas (Pacitan), Pondok Pesantren Darussalam Watucongol (Magelang)

 

KH. Nawawi juga memiliki andil besar dalam perjuangan bangsa, sebelum merdeka hingga pasca proklamasi kemerdekaan. Beliau pernah menjadi komandan Laskar Hizbullah Purworejo di masa kemerdekaan. Setelah proklamasi, aktif berorganisasi di organisasi kemasyarakatan juga organisasi keagamaan.

 

Pernah menjabat sebagai Rois Syuriyah NU Cabang Kabupaten Purworejo, Ketua Tanfidziyah NU Cabang Kabupaten Purworejo, Ketua MUI Pertama Kabupaten Purworejo, Pengurus Pusat Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah, Anggota Dewan Penyantun Majlis MUI Idonesia Jawa Tengah, Ketua Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh Indonesia Jawa Tengah.

 

Beliau juga pernah menjadi penasehat Legiun Veteran RI (LVRI) Kabupaten Purworejo, Penasehat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Purworejo, Ketua I Panitia Kongres I Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh Indonesia Jawa Tengah di Tegalrejo, Magelang. Mudir Tsani Idaroh ‘Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN Pusat), Wakil Rektor I Perguruan Tinggi Islam Imam Puro (PTII) Purworejo (sekarang STAINU).

 

KH. Nawawi berhasil meletakkan dasar-dasar pengembangan Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, dengan merubah nama Pondok Pesantren dari Miftahul Huda menjadi Roudlotut Thullab yang berarti Taman Siswa atau Taman Pelajar. Membuka Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyyah (Kini dikenal dengan Pondok Pesantren Putri An-Nawawi). Memulai sistem pengajaran madrasi atau klasikal dan membuka lembaga pendidikan formal. 

 

KH. Nawawi wafat di tahun 1982, estafet kepemimpinan Pondok Pesantren dan Thoriqoh dilanjutkan putra bungsunya. Beliau lah KH Achmad Chalwani yang hingga kini masih aktif mengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan. Para santri juga mendapat bekal pendidikan formal. Itu tidak lepas dari persinggungan KH Achmad Chalwani dengan beberapa Pondok Pesantren tempat beliau menuntut ilmu. Ada Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo (Kediri), Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak (Yogyakarta), Pondok Pesantren Olak Alung Ngunut (Tulungagung).

 

KH. Achmad Chalwani membawa Pondok Pesantren An-Nawawi berkembang pesat , maju dan dikenal luas. Ribuan santri yang datang menuntut ilmu datang dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan banyak alumni yang berasal dari Malaysia. Tetap teguh memegang cita-cita luhur nan mulia yang telah dirintis para pendahulunya, semua dimaknai sebagai amanat dan tanggungjawab untuk mempertahankan eksistensi Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, membawa para santrinya menjawab tantangan zaman, dan tetap mempertahankan Pondok Pesantren An Nawawi Berjan sebagai pondok pesantren dengan ciri khas pesantren salafiyah.

***



 

Iklan

iklan