M3AN Bangkit, Menjawab Kerinduan Santri Akan Musyawarah

Seluruh Pondok Pesantren yang ada di Indonesia, tidak ada yang berani untuk meniggalkan kegiatan Musyawarah atau Diskusi dalam sistem pembelajarannya. Musyawarah memang sudah diajarkan oleh Islam. Musyawarah dilakukan tidak hanya untuk mencari kebenaran semata, namun juga dilakukan untuk memecahkan masalah. Dan juga seluruh pelajaran yang ada tidak semudah yang dibayangkan untuk tetap melekat di hati para santri. Termasuk untuk memahami dan mengembangkan pelajaran yang sudah diterima di kelas yaitu dengan Musyawarah. Musyawarah dianggap sudah menjadi ruh dalam setiap Pondok Pesantren. Termasuk Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan. Hanya saja, mungkin cara atau metode dalam Musyawarah yang berbeda-beda di setiap Pondok Pesantren.

Di Pondok Pesantren An-Nawawi, kita mengenal istilah M3AN atau kependekan dari Majlis Musyawarah Madrasah An-Nawawi. Yaitu kepengurusan yang memang sudah ditugaskan khusus untuk mengawal santri dalam Musyawarah. Dalam beberapa bulan ini, M3AN seakan tidak menghembuskan angin segar lagi, karena perjalanan Musyawarah di pesantren kian surut. Santri yang sebenarnya sudah dijadwalkan untuk mengikuti kegiatan Musyawarah malah mangkir dari jadwal tersebut. Padahal, sebenarnya mereka sangat membutuhkan dan menginginkan musyawarah. Musyawarah yang dijadwalkan pada sore hari pukul 15.30 seakan hanya formalitas saja. Sehingga banyak santri yang gelisah pada masalah satu ini. Sampai-sampai di awal tahun ajaran baru kali inipun belum ada perkembangan sedikitpun.

Namun suasana menjadi berbeda ketika Lailatu At-Ta’aruf Pondok Pesantren dilakukan. Suasana haus akan musyawarah berubah menjadi segar. Bertepatan pada 22 Juli tahun ini, Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan mengadakan Lailatu At-Ta’aruf, yaitu malam perkenalan antara santri pada Pesantren, pada seluruh Pengurus Pesantren dan sudah pasti pada Pengasuh Pesantren An-Nawawi. Dalam perkenalan itu juga dikenalkan kembali M3AN atau Majlis Musyawarah Madrasah An-Nawawi. Hal itu sengaja dilakukan untuk memberi pengertian pada santri bahwa M3AN sampai sekarang masih eksis. Karena dirasa belum ada metode atau cara yang bisa menggantikan Musyawarah tersebut. Pengurus Pondok Pesantren sangat berpegang teguh pada“almuhaafadlotu ‘ala alqadiimi as-shaalih wal akhdzu bil jaadiidi al ashlah.” Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Maka, karena memang musyawarah adalah metode yang sampai saat ini dirasa sangat baik sehingga belum menggunakan metode-metode yang lainnya.

Dan bisa dilihat, ternyata usaha tersebut tak sia-sia, hasilnya sangat baik, baru beberapa minggu ini perkembangan Musyawarah di Pesantren An-Nawawi sangat signifikan. Hal itu bisa dibuktikan dengan antusias para santri terhadap Musyawarah tersebut. Setiap sore, santri beramai-ramai untuk berangkat menuju kelas masing-masing untuk musyawarah. Seluruh santri berlomba-lomba untuk memajukan kelasnya dengan musyawarah yang baik, malah saking asyiknya bermusyawarah, sering terjadi kelas yang tidak tau waktu, sampai masuk maghrib belum juga selesai. Ketua M3AN, Bapak Abdul Azis merasa sangat senang dan bangga dengan antusias para santri dalam muyawarah. “Kelas III MDU yang merupakan kelas tertinggipun sudah bisa menjadi contoh yang baik”, tuturnya.

Musyawarah yang biasanya dilakukan dengan membaca pelajaran terlebih dahulu dilanjutkan dengan pembahasan itu bisa dibilang sangat berpengaruh pada pendidikan santri. Selain yang tersebut di atas, yaitu metode santri untuk mendalami pelajaran, ternyata musyawarah juga berfungsi sebagai cara untuk melatih mental berbicara santri di depan umum dan juga cara supaya santri bisa berbicara dengan baik dan runtut serta otomatis berbobot. Maka selama ini bagaimanapun caranya, pesantren An-Nawawi terus berusaha menjaga budaya musyawarah. Karena termasuk budaya lama yang baik yang harus dijaga. (Khamid Nur, S.H.)