Enaknya jadi Santri

Santri, Kata yang sudah gak asing lagi tentunya di telinga kita. Yah, kata yang sudah familiar ditelinga kita itu ternyata memiliki beribu kisah yang menarik yang memang patut kita ambil pelajarannya. Orang punya kesan ketika denger kata Santri tu pertama tentunya alim, ramah, pinter masalah agama, pake sarung, kolot banget kaya gitu lah pokoknya, gak tau dunia bak seekor katak dalam tempurung. Emang bener sih, santri itu hidupnya di Pesantren yang emang tujuan semula ngaji, terutama masalah agama. Kalo bahasa kerennya, biar jadi insan religius, gitu. Padahal, Sebenernya santri gak sekedar kaya gitu temen, sebenernya, santri itu juga gak jauh beda dengan siswa siswa sekolahan, sebut saja anak SMA. Mungkin bedanya tadi itu, santri memang cenderung pendalaman ke bidang agama atau religius dan seorang santri hidupnya di Pondok Pesantren yang otomatis tidak sebebas mereka. Sedangkan mereka cenderung mendalami ilmu- ilmu umum dan sedikit lebih bebas dari seorang Santri.
Ada dua hal yang sangat penting untuk kita ketahui dan kita konsumsi dari seorang santri, yaitu Hablun minallah dan Hablun minannas.
Hablun minallah.
Ketika kita mendengar kata-kata tersebut tentunya sudah bisa menyimpulkan, karena dalam kehidupan siapa saja tentu tidak terlepas dari hal itu. Namun, dalam dunia Pesantren, kedua hal tersebut menjadi acuan utama. Pengamalan yang ada tentunya akan jauh berbeda dengan orang-orang di sekeliling kita. Hablun minallah, atau yang kita kenal dengan hubungan dengan Allah. Ada banyak cara yang biasa dilakukan manusia dalam hubungannya dengan Allah. Seperti itu juga seorang santri, dalam hubungannya dengan Allah, shalat, dzikir dan mujahadah menjadi andalan utama, karena memang itu yang diajarkan oleh Islam sendiri. Namun tidak sampai itu saja, teori niat (innamaal a’maalu binniyyaat) juga digunakan oleh Santri dalam hubungannya dengan Rabbnya. Jadi, bagaimanapun yang dilakukan Santri akan menjadi nilai ibadah yang menjadi jalan untuk hablun minallah. Sebut saja belajar atau ngaji, memang dalam prakteknya berhadapan dengan ustadz di kelas, namun dengan niat mencari ridlo Allah, belajar atau ngaji tidak cuma bernilai sampai dengan duduk di kelas dengan Kyai, namun ada makna lebih di dalamnya. Yaitu mengandung kedekatan dengan Allah dan tentunya sangat menjaga dalam hubungannya dengan Allah SWT.
Hablun minannas

Dalam hablun minannaas, atau hubungan dengan manusia, banyak sekali yang kita garis bawahi mengenai kehidupan santri. Yang pertama, Akhlak atau tingkah laku sesama manusia sangat dijaga oleh kalangan santri. Ajaran seorang Kyai tentunya akan dipegang erat oleh santri. Ajaran aladaabu fauqo aljaami’, atau adab itu berada di atas segalanya sangat dipegang oleh seorang santri. Pedoman mereka, seorang yang alimnya seperti apa ketika tidak punya akhlak yang baik tentu tidak akan berhasil ataupun manfaat ilmunya. Maka sangat hati-hati dalam menjaga adab tersebut. Terutama dalam hubungan sesame manusia. Kedua, ukhuwah atau persaudaraan. Pesantren yang didalamnya mengandung berbagai adat dan budaya karena kemajmukan santri. Tentunya ada pertanyaan mengapa mereka bias menjadi satu kesatuan yang kokoh? Nah, hal itu tak terlepas dari ukhuwah yang kuat. Rasa saling memiliki satu dengan yang lain sudah menjadi tradisi dalam santri. Malahan, dalam pesantren, tidak ada bahasa santri gak makan karena tidak punya bekal atau uang. Karena dengan rasa memiliki yang besar, santri yang lain tanpa dikomandopun pasti ada yang memberinya makanan, atau bahasanya mentraktirnya makan. Dan tentunya ukhuwah tersebut tidak akan luntur sampai pulang dari pesantren.

Tidak cuma itu saja, yang lebih penting untuk diketahui juga bahwa tentunya santri tak sekolot yang dibayangkan. Santri dalam prakteknya memang ngaji dan memperdalam ilmu-ilmu agama, namun ditengah kemajuan zaman yang pesat seperti ini. Pesantren juga tidak mau kalah dan tidak membiarkan santri begitu saja kolot, gak ngerti kemajuan dunia. Santri juga dituntut untuk mengerti kehidupan luar. Karena pada dasarnya santri juga akan dihadapkan pada dunia tersebut sehingga harus tahu akan apa yang dihadapinya. Jadi selain ilmu agama, ilmu umumpun sekarang sudah menjadi konsumsi kalangan santri. Karena dengan hadirnya pondok-pondok pesantren yang menggabungkan dengan formal, yang memang pada saat ini sangat dibutuhkan kalangan santri. Jadi tidak heran juga ketika sekarang kita dengar santri pintar main internet.

Jadi jangan khawatir deh menjadi seorang santri, semua ada dan bisa didapat dengan menjadi santri. Selain keilmuan yang memadahi, baik agama maupun umum, santri juga akan menemukan kehidupan yang sesungguhya melalui kedekatan dengan Allah SWT dan kedekatan dengan sesama manusia. Bahkan, tak jarang juga lo santri putra yang ngedapet santri putri dari pondok pesantrennya. Pokoknya, untuk semua santri, saya ucapkan selamat deh, dan yang belum nyantri, silahkan mencoba!. (Khamid Nur)