Uraian Hikmah Haul al-Mursyid al-Khalifah lit Thoriqah Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah Berjan Purworejo

Uraian hikmah pengajian dalam rangka haul al-mursyid al-khalifah lit thoriqah Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah Berjan Purworejo, KH. Zarkasyi ke-105, KH. Shiddieq Ke-70, KH. Nawawi Ke-37, yang dihadiri oleh ribuan ihwan thoriqah yang berasal dari kedu, bahkan hingga luar jawa.

Mau’idhotul Hasanah oleh KH. Ahmad Chalwani Nawawi

Thoriqah merupakan salah satu metode mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika thoriqahnya syadziliyyah maka ia menggunakan metoda syeikh Ali Abi Hasan Asy-Syadili, seperti KH. Dalhar Watucongol, KH. Baidlowi Lasem. Ketika Toriqahnya Syatoriyyah maka ia menggunakan metodenya syeikh Abdulloh Asyyatori seperti KH. Imam Puro Ngemplak. Ketika thoriqahnya khalidiyyah maka ia menggunakan metodenya syeikh Muhammad Hasyim al-Kholidi seperti KH. Arwani Kudus, KH. Misbah Citran, Bandongan. Ketika Toriqahnya Qadiriyyah maka ia menggunakan metodenya Syeikh Abdul Qadir al-Jailany seperti KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU, KH. Hasan Asy’ari atau Mbah Mangli Magelang, KH. Zarkasyi Berjan.

KH. Zarkasyi Berjan memperoleh sanad thoriqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari Syeikh Abdul Karim, Paman Syeikh Nawawi Banten pada waktu belajar di Sukk Lail Makkah. Sepulang dari makkah beliau mengembangkan thoriqahnya di Desa Baledono Purworejo, kemudian atas saran gurunya KH. Soleh Darat Semarang, beliau disuruh pindah ke sebelah barat baledono karena disana telah terlebih dahulu bermukim KH. Imam Puro. Atas usulan tersebut kemudian beliau pindah ke dusun Berjan, sebelah barat Baledono dengan dibekali 2 batu kali. Dan atas ketaatan kepada gurunya tersebut thoriqah yang beliau ajarkan dapat berkembang pesat.

Dalam menyebarkan dakwahnya KH. Zarkasyi mengangkat beberapa mursyid antara lain; KH. Mudzakir, adik KH. Dalhar Magelang, KH. Umar Payaman, KH. Ali Masykuro Srumbung, KH. Siroj Johor Malaysia. Karena keiklasan KH. Zarkasyi thoriqah tesebut dapat berkembang. Kemudian beberapa murid yang diangkat KH. Zarkasyi kemudian juga mengangkat murid seperti KH. Syiraj yang mengangkat KH. Afandi Insit Selat Panjang, KH. Husen Parit Bangkangkung Cilacap, KH. Hasbulloh Johor, KH. Bustomil Karim Lampung Selatan. KH. Umar payaman mengangkat Ky. Abdul Aziz Grabag, Ky. Kurnaen Secang, Ky. Saleh Prapag, Ky. Sulaiman Jetis Parakan, KH. Abdulloh Sambung Temanggung. Dengan demikian silsilah thoriqah Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah telah menyebar keberbagai daerah di Indonesia.

Kemudian untuk meneruskan pengajaran thoriqah di Berjan, KH. Zarkasyi mengangkat KH. Munir dan KH. Shiddieq. Pada masa selanjutnya KH. Shiddieq, untuk menyebarkan dakwahnya juga menganggat beberapa Mursyid, antara lain KH. Ali Sempu, KH. Kharomain Jember, KH. Abdul Majid Pagedangan Kebumen, KH. Sholeh Pakis.

Wafatnya KH. Shiddieq, kepemimpinan thoriqah di lanjutkan putranya, KH. Nawawi. Sebagaimana ayah dan kakeknya KH. Nawawi mengangkat beberapa mursyid antara lain KH. Maulani Magetan, KH. Zuhri Syamsuddin Jangkrikan, Wonosobo, Ky. Nahrowi Bandongan, KH.Djazoeli Srumbung. Dan yang dari luar jawa adalah KH. Ali bin Abdul Wahab Kuala Tungkal Jambi, cicit syeikh Arsyad Banjar. Dalam pengangkatannya KH.Ali memiliki liku perjalanan yang unik. Beliau dari Sumatra pergi ke jawa untuk mencari guru musyid, yang pertama ia temui adalah KH. Nawawi, namun saat menemuinya KH. Nawawi menyaratkan agar yang membaiat thoriqah adalah KH. Muslich Mranggen karena beliau dirasa yang paling alim, kemudian KH. Ali pergi ke Mranggen, demak. Sesampainya disana, ia di suruh baiat ke KH. Khafidz Rembang, karena beliau dirasa yang lebih alim, sesampainya di Rembang beliau di suruh ke KH. Adlan Ali Cukir, Tebuireng, Jombang, karena dirasa yang lebih alim. Sesampainya di sana beliau di suruh ke KH. Nawawi Berjan karena dirasa yang lebih alim. Kemudian sesampainya di Berjan lagi KH. Ali berkata ke KH.Nawawi “saya harus disuruh kemana lagi kyai”. Akhirnya KH. Nawawi berkenan mambaiat toriqah KH. Ali. kemudian selang beberapa bulan KH. Nawawi pergi ke Kuala Tungkal untuk membaiat beberapa orang masuk thoriqah dan mengangkat KH. Ali menjadi mursyid.

Selain mengembangkan thoriqah KH. Nawawi juga aktif dalam organisasi. Bahkan beliau menjadii tokoh pemrakarsa berdirinya Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al-Mu’tabarah di Magelang tahun 1957 bersam KH. Mandur Temanggung, KH. Muslih Mranggen, KH. Romli Tamim Jombang.

Dalam bertoriqah ada dua macam dzikir yaitu sir dan jahr. Dalam dzikir Jahr seseorang dianjurkan untuk menggelengkan kepala. Sebagaimana dikatakan KH. Syiroj Payaman , seseorang yang minum kopi tanpa diaduk maka tidak akan merata dan rasanya tidak akan enak, begitu juga dengan wirid.

Beberapa keutamaan dzikir sebagaimana dijelaskan KH. Achmad Chalwani yang menuqil dari hadits bahwa dzikir lebih utama dari surga dan isinya karena dzikir adalah haq Allah, selain itu dzikir adalah sumber dari ilmu. KH. Ahmad Abdul haq mengungkapkan bahwa sholat tanpa dzikir sepertihalnya kapal tanpa muatan, maka akan mudah terombang ambing. KH. Damanhuri Kutoarjo, salah satu mantan anggota Konstituante bersama dengan KH. Muntaha Kalibeber dan KH. R. Alwi Randucanan pernah mengungkapkan bahwa orang yang tanpa thoriqah dzikirnya hanya setiap ada undangan hajatan. Selain itu, menurut KH. Nawawi orang yang belum bertoriqah ibarat orang yang belum mempunyai SIM, maka ia akan mudah ditangkap.

Selain itu beberapa tokoh pendiri Nahdlatul Ulama adalah thoriqah. Beliau thoriqahnya Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, Cucu beliau Gus Dur juga bertoriqah. Sanad thoriqahnya diperoleh dari KH. Sonhaji, Jimbun Kebumen. Hal tersebut sejalan dengan suatu forum yang dihadiri banyak ulama di Magelang, kemudian KH. Siroj ditanya bagaimana hukumnya berthoriqah. Kemudian beliau menjawab bahwa hukum toriqah wajib bagi orang awam dan tidak diwajibkan atas orang yang alim. Kemudian KH. Siroj bertanya kepada hadirin adakah yang alim diantara kalian, dan yang merasa alim silahkan tunjuk jari. Namun dalam forum tersebut tidak ada yang mengacungkan jari. Kemudian setelah itu banyak kyai-kyai yang masuk thoriqah. (Berjan, 16 Sya’ban 1439 H./ 02 Mei 2018)