Ngaji "Bandongan" bersama KH. Achmad Chalwani Nawawi

روى من حديث أبى ذر قال قلت يا رسول الله فما كانت صحف ابراهيم قال كانت كلها أمثالا منها أيها الملك المسلط المبتلى المغرور انى لم ابعثك لتجمع الدنيا بعضها على بعض ولكن بعثتك لتردّ عنى دعوة المظلوم فانى لا أردّ ها ولو كانت من فم كافر

Diriwayatkan dari hadits-nya Abi Darr, dia berkata “saya bertanya kepada Rasulallah, ya Rasulallah seperti apakah Shuhuf Ibrahim itu? Beliau menjawab; Shuhuf Ibrahim itu semuanya berupa pribahasa/sastra. Contohnya;

"Wahai penguasa yang menguasai lagi sedang diuji (dengan berbagai macam cobaan) serta dirayu (oleh kebahagiaan sesaat)! Sungguh Aku tidak mengutusmu untuk mengumpulkan harta dunia, tetapi Aku mengutusmu agar jangan ada lagi orang yang teraniaya, karena sesungguhnya Aku tidak akan mencampakkan doanya orang yang teraniaya, walaupun doa itu keluar dari mulutnya orang kafir."

وفى التوراة يا إبن ا د م لا تخف من سلطان مادام سلطاني باقيا وسلطاني باق لا ينفد ابدا بفتح الفاء وباالدال المهملة اى لايفنى ولا ينقطع يا ابن ادم خلقتك لعبادتي فلا تلعب ياابن ادم لاتخافن فوات الرزق مادامت خزائني مملوءة وخزائني لاتنفد ابدا ياابن ادم خلقت السموات والارض ولم اعى بخلقهن أيعييني رغيف واحد أسوقه اليك في كل حين وقوله "اعى" مضارع "عي" بكسر عين الفعل من باب تعب اى ولم أعجز "ويعي" بضم الحرف المضارعة من "اعيا" الرباعي ياابن ادم كما لااطالبك بعمل غد فلا تطالبني برزق غد ياابن ادم لي عليك فريضة ولك علي رزق فان خالفتني في فريضتي لم اخالفك في رزقك على ما كان منك ياابن ادم ان رضيت بماقسمته لك أرحت بدنك وقلبك وان لم ترض بما قسمته لك سلطت عليك الدنيا حتى تركض فيها كركض الوحش في البرية اى الصحراء وعزتي وجلاني لا ينالك منها الا ما قسمته لك وانت عندى مذموم 

Di dalam Kitab Taurat disebutkan “ wahai anak keturunan Nabi Adam! Janganlah kamu takut kepada penguasa (kekuasaan manusia) selama kekuasaan-Ku masih tetap ada. Dan (ketahuilah bahwa) kekuasaan-Ku akan selalu ada, tidak akan punah selama-lamanya. -Lafal لا ينفد )huruf fa’-nya dibaca fathah dan menggunakan huruf dal tanpa titik di atasnya( memiliki arti لا يفنى dan لا ينفطع (tidak punah ataupun berakhir)-. Wahai manusia! Aku menciptakanmu untuk beribadah kepada-Ku, maka dari itu janganlah kamu bermain-main. Wahai manusia janganlah kamu teramat takut kehilangan rizki selama gudang makananku masih penuh, dan (ketahuilah bahwa) gudang makananku akan selalu ada dan tidak akan pernah punah ataupun habis untuk selama-lamanya. Wahai manusia! Aku tidak kesulitan untuk menciptakan langit dan bumi. (Kalau bumi begitu mudah aku ciptakan) lantas apakah Aku juga akan mendapatkan kesulitan untuk memberimu sepotong roti setiap saat (kamu membutuhkannya)? -Kata أعى adalah fi’il mudlari dari lafal عي yang ‘ain fi’il-nya dibaca kasrah, yang memiliki arti lelah yakni tidak mampu. Dan lafal يعي huruf mudlara’ah-nya dibaca dlammah yang berarti termasuk dalam pembahasan fi’il ruba’i-. Wahai manusia! Sebagaimana aku tidak menuntutmu untuk amal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang maka janganlah kamu menuntutku atas rizki pada waktu besok hari. Wahai manusia! Aku mempunyai hak terhadap kalian dalam hal kewajiban (segala macam bentuk peribadahan manusia kepada Allah) dan kalian berhak mendapatkan rizki dariku. Apabila kalian melalaikan kewajiban-kewajiban itu maka Aku tidak seperti kalian, Aku tidak akan melalaikan rizki yang kalian butuhkan. Wahai manusia! Jika kalian ridlo atas apa yang Aku bagi untuk kalian maka Aku akan mudahkan (urusan) badan dan hatimu, namun jika kalian tidak ridlo atas apa yang Aku tetapkan maka akan Aku perintahkan dunia untuk menguasaimu hingga engkau terdampar dan terperangkap di dalamnya seperti terdamparnya binatang liar di tanah lapang. Demi kemulian dan keagungan-Ku engkau tidak akan memperolehnya kecuali apa yang Aku tentukan untukmu dan di sisi-Ku kalian adalah orang-orang yang hina.

Sumber: Muhammad Nawawi, Kasyifatus Sajaa fi syarhi safinatun Najaa, (Surabaya: Toko Kitab A-Hidayah, tt), hal. 10.