Memaknai Kemerdekaan

Sehubungan kita sedang memperingati hari kemerdekaan, mari kita belajar, merdeka itu apa. Kanjeng Nabi Muhammad bersabda: Ana madinah al-ulum wa ‘Aly babuha, aku kotanya ilmu dan Ali pintu gerbangnya. Jika ingin memperoleh ridla nabi, maka harus memperoleh ridla sayyidina Ali. Maka, dawuh sayyidina Ali meski kita perhatikan. Sayyidina Ali berkata dalam lima baris. Seperti apa perkataannya?

Baris pertama, lâ hurriyata illa bi ad-dien, (tidak dikatakan merdeka jika tidak menggunakan agama). Baris kedua, walâ diena illâ bi al jama’ah(tidak dikatakan menjalankan agama dengan sempurna jika tidak pernah ikut perkumpulan). Baris ketiga, walâ jamâ’ata illa bi al imâroh(tidak dikatakan perkumpulan yang sempurna jika tidak ada yang memimpin). Baris keempat, walâ imârota illâ bi at-tha’ah(tidak dikatakan pemimpin yang sempurna jika tidak ditaati bersama-sama). Wala jamāata illa bi at-thāah (tidak dikatakan taat yang sempurna kecuali dengan menggunakan ilmu).

Jika diteruskan, tidak akan dapat ilmu jika tidak ngaji. Artinya, mengisi kemerdekaan harus dengan ilmu dan agama. Maka, seumpama ada orang memperingati kemerdekaan dengan ikut karnaval dan turnamen, namun belum shalat, berarti ia belum merdeka. Itu masih terjajah. Siapa yang menjajah? Yaitu Iblis dan Syetan.

Maksudnya tidak ada paksaan dalam agama itu, tidak ada paksaan masuk. Setelah masuk, wajib melaksanakan aturannya. Jika diibaratkan di terminal bus, sebelum masuk, kita bebas meilih bus mana yang akan kita tumpangi. Tak ada paksaan. Namun setelah masuk, kita wajib mengikuti aturan yang berlaku dalam bus tersebut. Jika ada orang diajak shalat atau puasa tidak mau dengan alasan: “tidak ada paksaan dalam agama”, itu salah. Tidak seperti itu pengertiannya. Maka, penting ngaji dengan sungguh-sungguh.

Tidak dikatakan merdeka jika tidak menggunakan agama. Jika sudah beragama, apa sudah cukup? Sayyidina Ali berkata: walâ diena illa bi al jamâ’ah(tidak dikatakan menjalankan agama dengan sempurna jika tidak pernah ikut perkumpulan). Ada orang berkata: “Aku sebagai orang Islam, yang penting waktunya shalat, shalat. Waktunya zakat, zakat. Waktunya haji, haji”. Orang tersebut tidak pernah ikut perkumpulan, entah yasinan, tahlilan, mujahadah, manaqiban termasuk memasuki tarekat. Orang seperti ini, tidak bakal sempurna agamanya. Maka, perlu kita ikut yasinan, tahlilan, mujahadah, manaqiban, tarekat termasuk ikut Jam’iyyah Nandlatul Ulama (NU).

Ketika sudah ikut perkumpulan, apa sudah cukup? Belum. Sayyidina Ali berkata: wala jamāata illa bi al-imāroh(tidak dikatakan perkumpulan yang sempurna jika tidak ada yang memimpin). Pemimpin itu penting. Jika ada pemimpin, semua bisa berjalan. Apa sebabnya grup hadrah (rebana) itu enak di dengar? Karena ada pemimpinnya. Bayangkan kalau tidak ada pemimpinnya dan menabuh sesuai selera sendiri, pasti tidak enak di dengar.

Maka Nabi Muhammad saw bersabda: idza kharaja tsalâsatun fi safarin fal yuammiru ahâdahum, Rowahu Abu Dawud; Jika ada orang tiga berjalan, salahsatu jadikanlah pimpinan [HR Abu Dawud]. Tiga saja harus ada yang memimpin apalagi sepuluh. Itulah mengapa, dalam rombongan haji, setiap sepuluh jamaah ada satu yang memimpin, namanya ketua regu. Jika orang sepuluh kok tidak ada yang memimpin, namanya: regudugan! Makanya, ada kepada desa termasuk bupati dan presiden yang dipilih melalui pilkada. Kita ikut dalam pilkada, dasarnya nderek hadist nabi ini.

Jika sudah ada pemimpin, apa sudah cukup? Belum. Sayyidina Ali berkata: walâ imârota illa bi at-tha’ah (tidak dikatakan pemimpin yang sempurna jika tidak ditaati bersama-sama). Sudah taat, kata Sayyidina Ali, juga belum sempurna jika belum dengan ilmu. Kemudian tidak akan dapat ilmu jika tidak pernah mengaji. Berarti kesimpulannya, mengisi kemerdekaan harus dengan mengaji.

Ngaji kalau bisa setiap hari. Suwaktu saya di pesantren, didik untuk mengaji setiap hari, seperti yang dijarkan dalam Syiir Alala ini: onoho ngalap faidah saben dino ing tambah, soko ngilmu lan ngelangi segarane faidah; Sebisa mungkin, setiap hari mendapat ilmu baru, dan jelajahilah lautah kemanfaatan.

Semoga, dengan semangat HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 ini, Allah SWT menjadikan negara tercinta kita ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, Amin Allahumma Amin.

Foto: Para santri putra-putri "An-Nawawi" ketika memperingati upacara HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.