Tanda Haji Mabrur

Dalam tradisi Islam Nusantara, kita mengenal Tasyakuran Haji. Tasyakuran itu tembung Jawa, berasal dari bahasa Arab. Tasyakuran itu masdar dari kata kerja atau fiil tasyakkaro. Ketika saya dipondok, diajari ilmu sharaf: tasyakkaro, yatasakkaru, tasyakkuran. Jika dimaknai, tasyakkaro sudah bersyukur; yatasakkaro sedang dan akan bersyukur dan tasyakkuran benar-benar bersyukur.

Definisi syukur adalah: tasyarufun ni’am li ’ibādatillah; mempergunakan kenikmatan untuk beribadah. Kita kita bisa menggunakan kenikmatan untuk beribadah, itu berarti sudah bersyukur kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda: al-hajj al-mabrur laisa lahu al-jaza’ illa al-jannah, haji mabrur itu tidak ada balasan lain kecuali surga. Ketika Nabi menyatakan hadis ini, ada sahabat yang bertanya: “Rasulullah, tanda-tanda haji mabrur itu seperti apa?”. Nabi menjawab: “tut’imu-t-tha’ām” (mau sedekah), “wa thibbul-kalām” (dan berbicara yang baik-baik). Tanda haji mabrur yang pertama adalah banyak bersedekah. Maka, para haji yang ingin hajinya mabrur, hendaklah banyak bersedekah. Nabi sudah mencontohkan, tiap kali pulang haji, nabi selalu bersedakah dengan menyembelih unta dan atau sapi.

Dalam hadits sahih riwayat Imam Bukhari disebutkan: Kāna Rasūlullāhi saw lamma qadimal-Madinah nahara jazūran aw baqaratan; sepulang haji, nabi selalu menyembelih unta atau sapi. Para haji yang sepulang haji belum bersedekah, hendaknya segera menyembelih unta atau sapi. Ini Hadis riwayat Imam Bukhari. Shahih. Asshahul kutub ba’dal qurān al-bukhari, kitab yang paling sahih, paling benar, setelah al-Quran adalah kitab Bukhari.

Siapa itu Imam Bukhari? Nama lengkapnya as-Syekh Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardisbah al-Ju’fi al-Bukhari. Beliau murid Imam Za’faron, murid Imam Syafi’i. Imam Syafi’i mempunyai murid Imam al-Khumaidi. Al-Khumaidi memiliki murid Imam Bukhari. Maka, Imam Bukhari merupakan murid dari murid Imam Syafi’i.

Jadi, orang memiliki guru harus jelas, apalagi dalam soal agama. Jangan berguru sekenanya. Nabi bersabda: i’lam anna hadzal ilma dienun, falyangdhur ahadukum amman ya’hudzu dienahu; Ketahuilah, ilmu agama itu agama. Maka jika mengambil ilmu agama harus jelas, jangan asal mengambil. Pusat ilmu agama ada dalam kalimat: lāilāhaillallāh.

Mengenai hadits (sepulang haji nabi selalu menyembelih unta atau sapi) tersebut, As-Syekh Dr. Bakar Ismail dalam kitab al-Fiqhul Wādlih ‘alal Kitābi was Sunnah menjelaskan begini: walidzālik yustahabu lil hājji ba’da rujū’ihi baladahu ayyanhara jamalan aw baqaratan aw yadzbaha syāttan au nahwal-baqarati lil fuqarā’ wal-masākin wal-jierān wal-aqribā taqarruban illallāh kama fa’alan-nabiyyu saw; maka dari itu, disunnahkan bagi orang yang haji, setelah kepulangannya, menyembelih unta, sapi, kambing atau membuat syukuran (wilujengan) yang nilainya (ajikertane) sama seperti satu sapi. Fakir miskin diundang. Tetangga diundang. Kerabat, sanak famili diundang. Apa niatnya? Taqarruban illallāh, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang jika tambah lumo (dermawan, memiliki empati sosial) tambah dekat dengan Allah SWT. Orang semakin cethil (pelit), semakin jauh dari Allah SWT. Tentang hal ini, ada syiirnya:
Laailaaha illallah... 3x Muhammadur Rasulullah.
Wong lumo... cedak allah. Wong lumo... cedak suargo. Wong lumo... cedak konco. Wong lumo... adoh nroko.
Mong medit... adoh Allah. Wong medit... adoh suargo. Wong medit.. adoh konco. Wong medit... kecegur neroko.

Syiir ini berasal dari nabi, bukan asal-asalan dari saya. Dalam hadis disebut begini: Sahhiyun qaribullah, qaribun ilal jannah, qaribun ilannas, ba’idun ilannar. Syiir dan Hadis ini untuk mendidik diri kita, bukan untuk ngacung-ngacung (menunjuk) orang lain.

Saya dulu pernah ngaji kepada Pak Lik-nya H. Kelik Sumrahadi, Mbah KHR. Damanhuri Kutoarjo. Beliau dulu pernah berkata, menukil kata Sayiidina Ali k.w.: Al-insānu imma ‘ālimun wa imma muta’alimu wa siwahuma bulghūsun; Manusia itu hanya dibagi menjadi dua: pertama mengajar (mulang) dan kedua belajar (mengaji); yang tidak megajar dan tidak belajar itu namanya rengit (hewan sejenis nyamuk). “Ning kui ojo nggo ngecungi wong liyo, tapi nggo ngandani awak dewe; tapi itu jangan untuk menunjuk orang lain, tetapi untuk menasehati diri sendiri”, kata Mbah Damanhuri.

Pengajian tasyakuran haji, jika ditambah grup terbang (rebana, hadrah), akan tambah regeng (semarak), lebih bagus. Karena terbang atau rebana adalah satu-satunya alat musik yang pernah disaksikan langsung oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Tanda haji mabrur kedua, setelah sedekah, adalah tiebbul kalām, baik perkataannya (apik ngendikane). Sebelum dan sesudah haji, hendaknya beda perkataannya. Jadi, yang sering mengucapkan binatang kaki empat itu, misal ada, hendaknya dihentikan. Sebab, perkataan baik itu mencermikan kepribadian yang baik.

Adapun ucapan yang paling indah adalah: afdhalu ma qultu ana wan nabiyuna min qabli Lāilāhaillallāh; sebaik-baik ucapan yang aku [nabi] ucapkan dan nabi-nabi sebelumku adalah Laailaahaillallah. Maka, setiap kali selesai berkhutbah, khatib selulu berkata: wala dzikrullāhi akbar; dzikir kepada Allah itu lebih besar [manfaatnya].

Tanda haji mabrur ketiga adalah, ifsyaaussalām, menebarkan salam, kedamaian. Dengan siapa saja bersahabat, termasuk memiliki sifat lapang dada. Jadi, mempopulerkan salam itu penting. Kita semua bahkan punya syiirnya:

Allāhumma antas salām. Wamingkas salām. Wailaika ya’ādus salām. Fahayyina rabbanā bissalām. Wa adhilnal jannata dārassalām. Tabāraka rabbana wata’alaika yadzal jalāli wal ikrām.
Artinya : "Ya Allah, Zat Maha Penyelamat dan dari Engkau keselamatan. Dan kepada-Mu juga kembalinya keselamatan. Maka hidupkanlah kami, ya Tuhan, kembali ke dalam surga, tempat yang sejahtera. Maha berkah Engkau, ya Tuhan kami Yang Maha Agung, wahai Tuhan pemilik keagungan dan kemuliaan ".

Semoga semua yang baru naik haji, menjadi haji mabrur dan kita mendapat berkahnya. Sebab, seorang haji dapat “menyafaati” 400 orang. Semoga kita senantiasa aman – teteram, selamat dunia - akhirat, dikabulkan doanya, shalih-shalihah anak-cucunya, digampangkan semua urusannya. Amin.